Tampilkan postingan dengan label Mojokerto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mojokerto. Tampilkan semua postingan

Isak Tangis K2 pun Bersahutan di Kantor Dewan

GresikNews1, MOJOKERTO - Dengan kalimat yang makin pelan, Rini, salah satu honorer K2 di Kota Mojokerto, hanya bisa berucap dengan terbata-bata. Kalimatnya tak utuh dan hanya terdengar tangisan. Suara perempuan ini pun terhenti lama di gedung DPRD Kota Mojokerto. Dengan napas tesenggal, perempuan yang sudah 21 tahun mengabdi di SMAN 1 Mojokerto ini ingin sekali Pemkot memperhatikan kesejahteraan mereka setelah tak lagi bisa masuk CPNS.
Tangisan melalui pengeras itu makin membuat haru seluruh isi ruang sidang utama gedung dewan di Kota Mojokerto, Selasa (25/3/2014). Bersama 154 honorer K2 seluruh Kota Mojokerto, mereka menyampaikan aspirasi soal nasib K2 pascates CPNS akhir 2013. Audiensi ini dihadiri lengkap, baik oleh anggota dewan maupun Pemkot.
Selain Ketua DPRD Kota Mojokerto Mulyadi, Komisi I yang diketuai Deni Novianto sebagai mediator bersama tiga anggotanya juga hadir. Bahkan Sekdakot Budwi Sunu dan Kepala BKD Kota Mojokerto Agus Endri juga hadir dalam audiensi ini. Para K2 itu sebelumnya telah sabar menanti mulai pukul 10.00. Audiensi baru bisa digelar pukul 12.00.
"Saya sudah sejak 1993 jadi honorer. Gaji dari Rp 9.000 per bulan. Kemudian Rp 150.000 dan sekarang paling tinggi Rp 450.000. Bagaimana dengan hidup anak-anak kami. Ma...af.. Bapak-Bapak...," suara Rini dipenuhi isak tangis.
Seluruh isi ruang sidang utama dewan terhening beberapa saat. Yang terdengar hanya isak tangis Rini. Kondisi makin memprihatinkan dialami K2 dari laki-laki. Sebagai kepala rumah tangga dengan honor minim, jauh di bawah UMK Kota Mojokerto yang saat ini Rp 1,2 juta. "Tolong perhatikan nasib kami, kesejahteraan kami," ucap Rini pelan dan disambut tepuh tangan sekitar 155 K2 yang hadir.
Melihat kenyataan ini, baik Ketua dewan Mulyadi, Sekdakot Budwin dan Ketua Komisi I Deni menaruh empati. Deni merasakan ada keresahan usai 155 tak diterima CPNS. Sementara 81 K2 Kota Mojokerto diterima. "Kami akomodir dan perjuangan aspirasi teman-teman K2," kata Deni.
Rata-rata, gaji para K2 di Mojokerto adalah Rp 250.000. Ada yang sampai Rp 400.000 per bulan. Ini adalah honor. Mereka tak bisa sertifikasi karena mengaja di sekolah negeri dengan jam ajar yang minim. Sementara selain guru, ada juga pegawai teknis TU dan kelurahan juga digaji dengan nominal sama.
"Saya bekerja di kelurahan sudah 31 tahun. Berharap diangkat jadi CPNS. Tapi sekarang pupus harapan kami. Jika tidak diangkat, kesejahteraan kami diperhatikan. Honor saya Rp 250.000 per bulan. Oleh Pak Lurah kadang kalau ada rejeki ditambahi Rp 100.000," kata Hadi, staf K2 di Kelurahan.
Setidaknya, para K2 itu meminta kebijakan Pemkot untuk memperhatikan kesejahteraan mereka. Setidaknya bisa untuk menyambung hidup bersama keluarga. Apalagi pemerintah yang dipahami K2 akan mengangkat menjadi PNS.
Mendengar harapan itu, Sekda Pemkot Mojokerto Budwi Sunu berjanji memperjuangkan nasib K2. "Kami akan berjuang mengkaji kembali agar honor disesuaikan (dengan UMK) dan bisa diambilkan dari APBD. Soal diangkat jadi CPNS, sebaiknya ditunggu dan tak perlu berharap banyak. Sebab, saat ini semua K2 di seluruh Indonesia juga menunggu nasib," kata Budwi.
Kalangan dewan setempat mendukung rencana itu. Deni bahkan telah berhitung jika APBD Kota Mojokerto mampu meng-cover pos anggaran untuk gaji K2 hingga Rp 2,5 miliar. "Saya kira sangat mungkin APBD menyediakan anggaran Rp 2,5 miliar untuk gaji K2. Dengan kalkulasi Rp 1,250,000 perbulan APBD kita sangat memungkinkan untuk itu," katanya. ( ARZ )

Operasi Pasar Bersama Wabup Gresik Untuk Meninjau Dan Mengecek Harga Sembako Dimasa New Normal Dan Membagi Masker

  Gresik,  gresiknews1.com     . - Motto Berani Mengungkap Membantu Yang Belum Terungkap.  Pandemi Covid - 19  pada saat ini belum juga sirn...